Whimsy & Wise

Menambah Ilmu Menghadapi Dunia

Aqiqah Sebagai Ucapan Syukur Kelahiran Anak Islam

Aqiqah Sebagai Ucapan Syukur Kelahiran Anak Islam

 

Puncak kebahagiaan pasangan suami istri selain kesuksesan dalam berumah tangga, pastilah lahirnya sang buah hati. Sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, umat beragama di Indonesia memiliki cara yang berbeda dalam melakukannya. Nah, yang akan kita bahas di artikel berikut ini adalah ucapan syukur kelahiran anak Islam.

Seluk Beluk Tentang Ucapan Syukur Kelahiran Anak Islam atau Aqiqah

Bagi sebagian besar orang khususnya yang muslim, pasti sudah familiar dengan hal ini yang dalam istilah keagamaan disebut Aqiqah. Namun belum tentu mereka tahu tentang detailnya. Maka dari itu, simaklah bahasan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat khususnya bagi saudara-saudara muslim yang ingin menjalankan ibadah Aqiqah. Berikut poin poinnya :

  • Pengertian Aqiqah

Aqiqah secara harafiah adalah penyembelihan hewan ternak (umumnya kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta) yang dilaksanakan setelah 7 hari atau lebih dari hari kelahiran seorang anak. Aqiqah merupakan wujud syukur atas dianugerahkannya sang anak sebagai penerus nasab atau keturunan dari suatu keluarga. Hasil sembelihan itu haruslah sudah dimasak, dibumbui dan sedemikian rupa hingga ketika dibagikan sudah siap makan. Lalu siapa saja yang berhak menerima daging hasil sembelihan tersebut? Jawabannya adalah tetangga, kerabat sekitar, serta orang yang kurang mampu.

  • Hukum aqiqah

Di dalam agama Islam, hukum suatu amalan terbagi dalam beberapa jenis. Sebelum membahas hukum aqiqah sebagai ucapan syukur kelahiran anak Islam, ada baiknya kita membahas macam macam hukum tersebut yaitu : Wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Wajib adalah hal yang harus dikerjakan. Jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan mendapat dosa. Sunnah adalah hal yang jika dilakukan mendapat pahala, namun jika tidak dilakukan tidak mendapat dosa/tidak apa-apa. Sunnah sendiri terbagi lagi ke dalam sunnah muakkad dan ghairu muakkad, dimana sunnah muakkad memiliki keutamaan atau pahala yang lebih besar. Lalu mubah, yaitu hal yang jika dikerjakan maupun tidak dikerjakan tidak mendapat apapun baik dosa atau pahala. Berikutnya ada makruh, yaitu hal yang dianjurkan untuk tidak melakukannya meskipun tidak mendapat dosa, karena dekat dengan haram. Contoh yang menjadi polemik dalam hukum makruh ini adalah merokok. Dan yang terkahir adalah haram, yaitu bila dikerjakan mendapat dosa, dan bila ditinggalkan mendapat pahala. Contohnya ya tentu saja makan daging babi atau minum minuman beralkohol. Lalu dimana posisi hukum aqiqah? Jawabannya adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan, sebab menurut hadits jika orang tua melaksanakan aqiqah untuk anaknya, maka jika kelak anak tersebut meninggal akan bisa memberi syafaat atau penyelamat bagi kedua orang tuanya. Oleh karena itu tidak heran jika banyak orang tua yang berlomba-lomba untuk mengaqiqahkan anaknya. Bahkan sering kita jumpai ada orang yang sebenarnya dalam kondisi ekonomi biasa saja namun rela menabung demi membeli hewan untuk melaksanakan aqiqah.  Satu lagi yang sangat perlu ditekankan adalah keikhlasan dalam menjalankan amalan aqiqah ini. Jalankanlah semata-mata karena mengharap ridho Tuhan, bukan karena ingin dianggap mampu apalagi pamer, riya, dan ujub. Ingat, kunci dari diterimanya segala amalan adalah hati yang ikhlas dan jiwa yang tulus tanpa pamrih apapun.

pexels.com
  • Waktu pelaksanaan aqiqah

Dalam tata cara pelaksanaannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar nanti amalan aqiqah kita sesuai kaidah dan tidak sia-sia. Yang pertama adalah waktu. Seperti sudah dibahas di awal tadi, waktu pelaksanaan aqiqah adalah 7 hari dan setelahnya dari tanggal kelahiran sang anak. Pengertiannya disini adalah, diutamakan tepat di hari ke 7, namun boleh dilaksanakan di hari hari berikutnya bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Batas akhir pelaksanaan akikah adalah jika si anak sudah baligh dan mampu. Ukuran baligh sendiri mirip-mirip dengan ukuran jika seseorang sudah mencapai pubertas pada rentang waktu remaja. Gampangnya, usia antara 13 hingga 15 tahun. Jika sang anak telah baligh dan kondisinya mampu, dia bisa melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri. Bagaimana jika datang musibah yang tidak diinginkan, yaitu sang anak wafat atau meninggal sebelum hari ke tujuh? Menurut beberapa riwayat hadits shahih, aqiqah tetap dianjurkan untuk dilakukan khusunya mazhab Imam Syafi’i. Sedangkan mazhab Imam Al Basri dan Imam Maliki memiliki pendapat berbeda yaitu tidak perlu melakukan aqiqah jika musibah ini menimpa. Sejatinya inti dari waktu pelaksanaan aqiqah dalam semua mazhab adalah sama yaitu laksanakanlah segera jika dirasa mampu.

  • Ketentuan Hewan Ternak untuk Aqiqah

Yang kedua adalah tentang hewan ternak dalam aqiqah. Sama seperti ketika melaksanakan qurban, kriteria hewan yang akan digunakan untuk aqiqah haruslah hewan yang sehat, bebas dari virus atau penyakit, dan tanpa cacat. Jumlah hewan untuk aqiqah adalah sekurang-kurangnya 1 ekor kambing untuk 1 anak. Jika yang lahir adalah anak laki-laki dianjurkan untuk mengaqiqahkan 2 ekor kambing sekaligus. Namun itu tentu dengan syarat jika sang orang tua mampu agar tidak malah membebani kehidupannya. Untuk usia hewan sendiri, bisa dengan menggunakan perkiraan, yaitu sekitar 2 tahun. Perlu diperhatikan pula, kehalalan dalam memperoleh hewan tersebut. Tidak diperkenankan membeli hewan dengan uang hasil korupsi, sengketa, dan uang yang mengandung keburukan lain karena justru akan merusak pahala aqiqah itu sendiri.

  • Cara pemotongan dan pengolahan

Pada dasarnya, pemotongan hewan untuk aqiqah hampir sama dengan cara pemotongan hewan qurban. Hewan tersebut haruslah disembelih dengan aturan Islam (mengucap basmalah sebelum memulai, menggunakan pisau atau alat pemotong yang tajam, memotong urat nadi leher tanpa menyiksa sampai hewan benar-benar mati dan lain-lain). Perlu diperhatikan pula, sebaiknya yang ditunjuk jadi algojo penyembelih hewan adalah orang yang sudah berpengalaman agar proses penyembelihan lancar. Yang agak berbeda disini adalah niat yang dibaca ketika menyembelih. Setelah membaca basmalah, bacalah doa niat aqiqah. Oleh karena jika saya tulis disini rasanya terlalu panjang, anda bisa mencari referensi tentang doa niat aqiqah di internet atau buku-buku doa islami. Selanjutnya dalam mengolahpun harus benar benar diperhatikan kebersihan dan kesterilan alat masaknya agar daging yang nantinya akan dikonsumsi benar-benar sehat dan bermanfaat bagi orang yang menerimanya, bukan malah menimbulkan penyakit. Sangat diutamakan pula yang memasak daging tersebut adalah orang yang ahli, karena dengan rasa masakan yang nikmat, maka daging aqiqah akan terasa lebih barokah.

  • Pembagian daging aqiqah

Daging yang telah dimasak, diolah, dan dibumbui sedemikian rupa, hendaknya dikemas dalam wadah yang baik dan layak sebelum dibagikan. Biasanya di Indonesia, daging tersebut diolah menjadi sate atau gulai, lalu dikemas dalam styrofoam atau kardus makanan yang sudah dikombinasikan dengan nasi, sayur atau lauk lain. Hal ini boleh-boleh saja, mengingat tidak ada aturan yang mengikat. Sebaiknya pula, daging segera dibagikan setelah semua selesai dimasak atau diolah. Ini dimaksudkan agar masakan daging tersebut masih dalam keadaan baru atau fresh untuk dikonsumsi. Untuk target penerima daging aqiqah sendiri ialah kerabat terdekat, seperti tetangga, saudara, atau orang-orang kurang mampu yang masih berada dalam satu wilayah tempat tinggal. Ada dua cara pembagiannya, yaitu dengan mendatangi satu per satu rumah sambil membawa daging yang sudah dikemas. Atau bisa juga dengan menggelar open house dengan hidangan daging aqiqah tersebut. Untuk cara yang kedua ini, biasanya hanya orang-orang berduit yang mampu melakukannya.

pexels.com

Amalan Lain yang Menyertai Aqiqah

  • Mencukur rambut bayi dan memberi nama

Selain menyembelih hewan seperti sudah disebutkan tadi, ada amalan lain yang menyertai aqiqah. Amalan tersebut adalah mencukur rambut dan pemberian nama bagi sang anak tepat di hari ke tujuh. Tentunya dalam memberi nama haruslah nama yang baik, karena nama adalah doa. Tentang amalan mencukur rambut serta memberi nama ini sudah ada hadits shahihnya yang diriwayatkan Ibnu Majah. Amalan ini sendiri hukumnya sunnah ghairu muakkad, yaitu jika dilakukan mendapat pahala dan jika tidak pun tidak apa-apa. Saya sendiri tetap menyarankan untuk dilakukan, karena selain menambah pahala, dari segi kesehatan sendiri banyak pakar yang menyarankan rambut bayi sebaiknya dicukur rata sebelum dia mencapai usia 1 bulan. Kemudian soal nama tadi, jika sudah terlanjur memberi nama namun di kemudian hari diketahui bahwa nama tersebut maknanya kurang baik, maka sangat dianjurkan untuk menggantinya. Hal ini cukup berdasar karena menurut riwayat, Nabi Muhammad S.A.W pernah mengganti nama seorang perempuan ketika ia mendapati nama aslinya mempunyai arti yang kurang baik.

  • Bersedekah logam mulia

Berikutnya, masih ada amalan lanjutan yaitu bersedekah logam mulia berupa emas atau perak. Berat emas atau perak yang disedekahkan disesuaikan dengan jumlah berat rambut bayi yang dipangkas. Sedekah logam mulia ini lagi lagi hanya diperuntukkan khusus untuk yang kondisi ekonomi nya mampu saja, karena tentu biaya penyembelihan hewan saja sudah harus keluar banyak uang. Dikhawatirkan nantinya malah membebani jika dipaksakan. Disini sering timbul pertanyaan, bolehkah mengganti logam mulia dengan uang atau benda lain semisal beras , makanan, dan sebagainya? Sebaiknya tidak, karena hal tersebut hanya berlaku untuk zakat fitrah. Di dalam literasi Islam sendiri belum ditemukan adanya substitusi pengganti logam mulia sebagai amalan penyerta aqiqah. Ada kemungkinan akan jatuh kepada bid’ah dan nantinya malah mengurangi pahala aqiqah itu sendiri. Kalau anda punya harta lebih berupa uang atau makanan dan itu kebetulan akan diberikan bertepatan dengan aqiqah anak anda, niatkanlah sebagai infaq atau sedekah.

  • Mengumandangkan Adzan dan Iqomat

Anak yang baru lahir sangat dianjurkan untuk diperdengarkan adzan di telinga kanannya kemudian Iqomat di kiri. Siapakah yang sebaiknya mengumandangkan adzan bagi sang bayi? Jawabannya tentu saja sang ayah kandung. Jika ayah berhalangan atau tidak dapat hadir ketika momen kelahiran, saudara laki-laki (kakak, adik, kakek, paman, pak dhe, sepupu dll) adalah pengganti yang shahih. Namun jika tidak ada juga, siapapun laki-laki yang ada di ruangan tersebut diperbolehkan termasuk dokter atau perawat jika dia beragama Islam. Urutannya sama seperti tata cara shalat berjamaah di masjid, yaitu Adzan dahulu baru kemudian Iqomat.

  • Tahnik

Tahnik adalah menyicipkan kurma ke mulut bayi. Caranya sedikit bagian kurma yang lembut dikunyah orang dewasa yang mempunyai kekerabatan dengan bayi  (diutamakan ayah) lalu ditempelkan sedikit ke bibir dan lidah sang bayi. Dalam suatu riwayat, Rasulullah S.A.W pernah melakukan tahnik kepada seorang bayi lalu memberi nama bayi tersebut “Abdullah”

pexels.com

Perbedaan Aqiqah dan Qurban

Seperti sudah dibahas di paragraf sebelumnya, aqiqah berbeda dengan qurban meskipun sama-sama menyembelih hewan dan sebagai ungkapan rasa syukur. Karena masih banyak yang agak rancu dengan perbedaan keduanya, maka saya akan berusaha menjelaskan di sini agar tidak terjadi kesalahan pengamalan.

  • Tujuan

Seperti kita ketahui, Tuhan memberi nikmat kepada umatnya dalam berbagai wujud atau bentuk. Bisa berupa harta, jabatan, kekuasaan, kelahiran buah hati, bahkan perasaan senang dan nyaman pun termasuk wujud nikmat dari Tuhan yang dilimpahkan kepada manusia di muka bumi. Nah, perbedaan paling mendasar dari aqiqah dan qurban adalah tujuan mensyukuri nikmat. Aqiqah bisa diartikan ucapan syukur kelahiran anak Islam, sedangkan Qurban adalah rasa syukur terhadap nikmat harta.

  • Perbedaan waktu pelaksanaan

Lagi-lagi waktu menjadi hal yang krusial dalam pelaksanaan suatu amalan agama. Begitu pula yang ada di dalam aqiqah dan qurban. Penyembelihan hewan qurban haruslah dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 13 Zulhijah atau dalam kurun waktu hari raya Idul Adha. Ketentuan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan untuk aqiqah bisa dilaksanakan kapanpun setelah hari ke 7 kelahiran bayi.

  • Perbedaan tempat pelaksanaan penyembelihan

Biasanya penyembelihan hewan qurban dilaksanakan di lapangan RT , RW, atau desa tertentu dimana hewan qurban dari keluarga dalam lingkup wilayah tersebut dikumpulkan menjadi satu. Sedangkan aqiqah bisa langsung dilakukan di rumah penyembelihan hewan, karena nantinya akan dimasak oleh si keluarga yang melaksanakan aqiqah tersebut.

pexels.com
  • Niat dan doa pada saat penyembelihan

Pada saat penyembelihan hewan, niat dan doa aqiqah dan qurban juga pastilah berbeda. Jangan sampai salah karena bisa mengacaukan amalan kita. Ada contoh kasus yang lumayan sering terjadi dan membuat bingung, yaitu ketika kelahiran sang anak waktunya dekat dengan hari Idul Adha. Sebenarnya tidak perlu pusing-pusing, kuncinya adalah doa dan niat pada saat penyembelihan. Jika tujuan anda adalah aqiqah, niatkan dan bacalah doa aqiqah, begitu pula sebaliknya jika tujuan anda adalah qurban. Nah, lalu manakah yang harus diutamakan? Menurut ahli agama Islam, jika hanya mampu membeli 1 ekor hewan, maka aqiqah lah yah harus didahulukan, karena menyangkut anak. Lebih mulia lagi jika anda mampu membeli beberapa hewan, maka sebagian bisa diniatkan untuk aqiqah dan sebagian lain diniatkan untuk qurban. Lagi-lagi kemampuan ekonomi orang tersebut menjadi tolak ukurnya.

  • Kondisi daging yang dibagikan

Daging untuk qurban dibagikan dalam keadaan belum dimasak namun sudah dibersihkan dari bulu, darah, serta kotoran-kotoran lainnya, Daging aqiqah sendiri harus dibagikan dalam keadaan sudah dimasak lengkap dengan bumbu-bumbu dan sebagainya atau dengan kata lain dalam kondisi siap makan.

Demikianlah bahasan kita kali ini yaitu aqiqah sebagai ucapan syukur kelahiran anak Islam. Dalam melaksanakan aqiqah tidak boleh sembarangan karena ada ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi, yaitu tata cara, waktu, niat, dan sebagainya. Ringkasan kedua adalah penjelasan tentang perbedaan aqiqah dan qurban agar tidak terjadi kesalahan pelaksanaan yang berujung sia-sianya amalan tersebut. Sekiranya segala sesuatu sudah tertulis dengan cukup padat dan ringkas disini, namun tentu saja tak ada gading yang tak retak. Bila anda masih ragu, anda bisa bertanya kepada kyai, ustadz, atau ahli agama terdekat. Itu saja yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. BTW, pelajari juga doa kelahiran anak dari ummuhabibah.com ya. 😀

Ade

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *